Saturday, 8 April 2023
MAN-THINK
Monday, 23 May 2022
PERCAYA DIRI
Di penghujung tahun 2015 merupakan puncak awal kehidupan yang sesungguhnya untuk saya. Memantapkan diri untuk SEGERA menikah di umur 25 tahun. Bukan kah lebih cepat itu lebih baik? menghindari zinah dan fitnah. Tentunya dengan orang yang saya percaya sudah tepat. Bertemu kembali di 2015, tanpa pacaran, tanpa hambatan, begitu cepat dan tepat di tahun itu juga saya menikah. Dari praduga korban perjodohan orangtua sampai korban MBA. Namanya jodoh ya Allah kasih lancar, lancar jalannya, lancar rizkinya, lancar hubungannya, ga ada tuh galau-galauan, baper-baperan, putus-putusan, nyambung-nyambungan. Awalnya saya pikir menikah itu mencari kebahagiaan, setelah menjalani rumah tangga saya salah besar. Menikah itu mencari keridhoan Tuhan. Kalau pacar kamu bilang akan membahagiakan kamu dengan menikah itu salah besar! hahaha! apalagi untuk wanita, mungkin lebih bahagia ketika remaja. Dulu kalo bangun tidur jam 10 siang paling cuma kena omel nyokap, siangnya doi udah baik lagi, itupun kadang masih ditolerir kalo lagi kebagian shift kerja siang. Mau pergi kemana dan pulang kapan bebas tanpa pikirin orang rumah. Well, tingkat kebahagiaan berbeda-beda. Ada yang bahagia ketika memiliki keturunan, ada yg bahagia ketika memiliki harta, ada yang bahagia ketika memiliki tahta. Dan setelah proses bahagia itu tidak cukup, hanya sementara setelah itu akan ada kebahagiaan lain yang menunggu, maka susah lagi, lalu senang lagi, makanya banyak yg bilang menikah untuk "SUSAH SENANG SAMA-SAMA" karena memang susah dulu baru senang, hehehe.
Sekarang umur saya menginjak 32 tahun, walaupun banyak yg mengira 23 tahun, hehehe. Bahagia? tentunya. Ternyata seiring bertambahnya umur mengingatkan saya kepada Tuhan, mendekatkan saya kepada pencipta semesta, kembalinya tujuan hidup yang abadi. Sekarang saya lagi nikmatin prosesnya, proses kesulitan, kebahagiaan, susah, senang dalam berumahtangga dengan 2 anak. Mungkin di luar sana dengan umur yang saya punya masih ada yang berbahagia dengan status singlenya, dengan status istri, atau ibu dari anak 1, 2, 3, 4, dst. dan saat ini saya sedang berbahagia karena bisa merasakan kebahagiaan single parents sementara sambil menunggu kebahagiaan kelengkapan itu datang di penghujung tahun 2022 ini.
Balik lagi sm tingkat kebahagiaan beda-beda ya guys... Saya bahagia dengan pemberian rindu dari suami. Mungkin rindu kalian selesai selepas suami pulang kerja, saya pun sama hanya porsinya yang ditambahkan menjadi 9 bulan. Banyak yang nanya kok mau LDM sama suami? yakin suaminya aman di LN? kalo masalah aman si suami emang ga bakalan aman dari perempuan lain, cuma bohong atau nggak sih urusan dia dengan yang maha kuasa, dan tugas saya hanya PERCAYA.
Thursday, 26 August 2021
Arshavin Zain Ferdian
Anak kedua saya, gender yang sama seperti kakaknya, Arshavin Zain Ferdian. Kecewa? tentu tidak. Katanya kalau belum punya anak perempuan itu belum sempurna menjadi seorang bpk/ibu, tapi saya nggak. Memiliki seorang anak adalah karunia terindah dari Tuhan untuk saya, apalagi memiliki dua orang anak. Menikah bukan tentang mencari keturunan. Jadi duapun cukup untuk saat ini, semoga sampai mendatang, Shavin menjadi adik, Erza menjadi kakak. Bukan tentang pengurusan, pendidikan, apalagi rejeki, tetapi pada dasarnya budaya PATRIARKI masih layak menjadi perbincangan di sekitar saya. Maklum saya hidup di lingkungan terpencil yang memang kampung. Jadi sedikit banyak selalu ada kata "kok nggak bisa?" Kodratnya seorang wanita adalah ketika bisa hamil, melahirkan, dan menyusui, selebihnya apa yang bisa dilakukan wanita pasti bisa dilakukan laki-laki, begitupula sebaliknya. Bersikap adil 1 anak di handle bpk, 1 anak di handle ibu. Dalam pengurusan anak tentunya banyak miss, dan budaya PATRIARKI tidak berlaku di sini.
*Ade Shavin* 😘
Tuesday, 22 December 2020
KITA DAN MASA LALU
Semua orang memiliki masa lalu, begitu pula KITA. MASA LALU boleh dilihat jika perlu, sebagai pelajaran agar terhindar dari kecelakaan. Semua insan memiliki berbagai MASA LALU baik terang maupun gulam, begitu pula KITA. Sudah menjadi kewajiban setiap pasangan menerima semua yang ada dalam diri pasangannya maupun sekelilingnya, termasuk didalamnya MASA LALU. Sekarang bagaimana mengemas MASA LALU tersebut dalam keadaan rapi, tanpa terlihat kasat mata, mengambil hikmah dari setiap pelajaran, agar yang tak diinginkan tak menjadi kenyataan.
Tugas pengemudi saat ini hanya ingin melihat kebelakang atau hanya menoleh sesekali kebelakang? Bincang-bincang tentang KITA dan MASA LALU selalu buat pilu. Aku bertanya, kamu bertahta. Pillow talk hanya sebuah teori tanpa observasi, kenyataan tak sebanding dengan harapan yang berujung emosi. Aku hanya merasa tersakiti, sekalipun kamu bukan bermaksud menyakiti. Cita KITA satu, jalan terus maju masih jauh, jangan sampai buntu. Kepercayaan nomor satu, keraguan seharusnya tersapu. MASA LALU mengusir kepercayaan, sehingga dilansir kecurigaan yang akhirnya berdampak pada setiap pasangan. Semoga KITA bisa belajar dari MASA LALU tanpa kata-in.
