Sunday, 15 May 2011

Cerminan selera remaja dalam tokoh ‘Dia, Tanpa Aku’ dari Esti Kinasih

Pendahuluan
            Tokoh remaja dalam novel-novel remaja Indonesia sangat menyerupai pribadi mereka. Penokohan yang sangat berbeda dari tokoh remaja generasi terdahulu. Kini, tokoh remaja diberikan karakter egois, serba instant mendapatkan sesuatu, bebas tanpa kekangan. Peranan remaja sekarang ini banyak dijumpai dalam novel-novel remaja lainnya.
Dia, Tanpa Aku adalah novel keempat Esti Kinasih. Ketiga novel sebelumnya juga novel remaja. Esti Kinasih lahir di Jakarta, 09 September 1971. Dilihat dari tahun kelahirannya, Pengarang sudah menduduki kedewasaan. Mungkin karena pengarang memiliki jiwa muda, maka pengarang sangat menyukai membuat novel-novel yang bertajuk remaja. Penerbit dalam novel tersebut adalah PT Gramedia Pustaka Utama. Kekhasan penerbit adalah banyaknya mengeluarkan novel yang bertajuk teenlit. Maka novel tersebut tidak salah kalau dinilai novel remaja, karena keterkaitan antara pengarang dengan penerbit sangat erat. Pengarang adalah penulis novel yang biasa menulis cerita tentang remaja, dan penerbit adalah penerbit buku-buku yang biasa menerbitkan novel-novel yang bertajuk remaja.
            Novel ini mengisahkan tentang nasib Ronald, kelas SMA 2 yang sudah lama naksir Citra anak kelas 3 SMP. Tapi Ronald belum mau PDKT. Ia menunggu sampai Citra masuk SMA, karena itu ia hanya dapat mengamatinya dari jauh. Saat yang ditunggu-tunggu Ronald tiba, Citra masuk SMA. Namun Ronald kecewa ternyata Citra masuk SMA yang sama dengan adiknya Reinald, sekelas pula. Keinginan dan harapan Ronald untuk mendekati citra tak pernah terwujud, ia kecelakaan dan tewas di tempat, ketika ingin berkenalan langsung ke rumah Citra.
            Reinald menganggap Citralah penyebab kematian kakaknya. Keduanya kemudian kerap bertengkar tanpa Citra tahu pasti alasannya. Sikap Ronald berubah drastis ketika Citra memutuskan mengacuhkannya. Kini Reinald berada di posisi yang sama seperti Ronald dulu. Ia hanya dapat mengamati Citra, tetapi Citra sama sekali menghiraukannya. Dan akhirnya Reinald tak lagi ingin menjaga Citra demi almarhum Ronald, tetapi karena dirinya sendiri. Dan itu membuat Ronald kembali dengan sosok yang abstrak. Kembalinya Ronald hanya ingin memyampaikan suatu hal kepada Reinald, yaitu menitipkan Citra kepada adik yang sangat disayanginya.[1]
Topik adalah bagian kalimat yang diutamakan dari beberapa hal yang dikontraskan.[2] Topik yang saya ambil dari membaca novel tersebut adalah Cinta dan Kasih Sayang. Saya mengambil topik tersebut, karena keseluruhan dari cerita ini berdasar pada rasa cinta dan kasih sayang kepada kekasih, adik, sahabat, dan lain-lain. Tema adalah dasar cerita.[3] Tema yang saya ambil dari membaca novel tersebut adalah Penantian Cinta Yang Hilang Dalam Kematian. Saya mengambil tema tersebut karena cerita ini mengisahkan tentang seorang pria yang menanti kekasihnya sejak lama. Tetapi pada saat berakhirnya penantian itu, pria tersebut justru menemui ajalnya karena tertabrak mobil. Judul adalah kepala cerita[4]. Suatu buku akan laris di pasaran karena judul yang menarik dapat dibenarkan. Judul yang pengarang berikan adalah Dia, Tanpa Aku. Dari Judul tersebut, pembaca dapat menarik kesimpulan bahwa isi novel tak terlepas dari rasa kehilangan, kesedihan, kekecewaan, kekhawatiran.
Dalam analisis yang akan dilakukan, saya ingin menunjukkan bahwa novel ini mengandung pencerminan selera remaja sekarang. Novel ini melukiskan selera remaja sekarang, dari mulai dari sex, sport, and style yang tentunya berhubungan dengan selera.
Masalah dan tujuan
            Masalah yang diajukan dalam tulisan ini adalah bagaimana cerminan selera remaja dalam tokoh pada novel? Tujuan tulisan ini adalah menunjukkan selera-selera remaja yang terdapat pada novel Dia, Tanpa Aku karya Esti Kinasih.
Landasan teori
            Fungsi utama karya sastra adalah untuk melukiskan, mencerminkan kehidupan manusia, sedangkan kehidupan manusia itu sendiri selalu mengalami perkembangan. Dalam hubungan inilah diperlukan genre yang berbeda, dalam hubungan ini pula diperlukan teori yang berbeda untuk memahaminya.[5]
Untuk menganalisis novel ini, saya akan menggunakan teori strukturalis. Sesuai dengan artinya, Struktur adalah pengaturan unsur atau bagian suatu benda.[6] Maka saya akan mengaitkan antar unsur dalam karya tersebut demi melihat pencerminan remaja dalam cerita remaja tersebut. Saya mengangkat hal yang melatar belakangi novel tersebut, pertama dari tokoh.
Saya juga akan mengunakan beberapa rumusan tentang nilai dalam Value Theory yang dicetuskan oleh David Madden, Leslie Fielder, John Cawelti. Teori nilai ini diartikan sebagai bentuk pembelajaran tentang kebudayaan populer dengan mempelajari perumusan dan penilaiannya. Pada dasarnya setiap manusia memiliki respon berbeda-beda ketika melihat suatu objek. Penilaian inilah yang membuat penilaian terhadap budaya populer beragam.[7]
Analisis novel
Novel ini menghadirkan selera cerita remaja sekarang, yaitu seputar percintaan. Tetapi bukan hanya seputar percintaan saja, pengarang juga menyentuh cinta tersebut dengan menghadirkan mistik dan kematian di dalamnya.
    a.      Cerminan selera remaja pada tokoh remaja dalam novel ‘Dia, Tanpa Aku’
Tokoh yaitu pelaku yang ada dalam cerita.[8] Yang terpenting dalam cerita remaja adalah identifikasi tokoh dari orang yang dikagumi. Tokoh Ronald mungkin dikagumi remaja, karena pengarang memberikan kelebihan kepada tokoh yaitu setia, kondisi materi yang cukup berada, dan pandai, menjadikannya contoh untuk siswa lainnya. Tokoh Reinald, dihadirkan dengan karakteristik tampan, keren, perhatian, egois, sedikit pandai dari tokoh Citra, menjadikan Reinald sebagai pembantu untuk mengajarkan seputar pelajaran yang kurang dikuasai Citra. Tokoh Citra, perempuan cuek yang suka usil, justru kecuekannya itu yang membuat dirinya terlihat cantik dengan tampilan apa adanya.
Selera remaja adalah mencari identitas dirinya, mungkin setelah membaca novel remaja, ia dapat menemui karakter dirinya. Maka dari itu, pengarang memberikan formula sifat-sifat yang sangat mirip dengan karakter remaja sekarang. Saya mengangkat hal yang melatar belakangi novel tersebut, pertama dari tokoh. Dalam budaya populer, formula itu sangat penting. Maka dari itu, saya melihat dari formula yang diberikan pengarang. Formula yang dihadirkan pengarang dalam tokoh ialah tokoh adik dan tokoh kakak. Tokoh adik dan kakak tak terlepas dari kata keluarga, dan keluarga pada dasarnya saling menyayangi. Maka cerita tentang kasih sayang menghinggapi novel ini. Selain cerita tentang kasih sayang, cerita tentang cinta menjadi prioritas utama dalam novel ini. Tokoh yang dihadirkan pengarang bermacam-macam genre, ada feminin dan maskulin. Jika genre ini dipertemukan tidak ada ketidakmungkinan terjalinnya cinta dari masing-masing tokoh tersebut. Kasus remaja yang sering terjadi adalah sebuah jalinan cinta, maka pengarang menghadirkan cerita tentang cinta pada novel ini yang dibuatnya memang untuk remaja.
Cinta sangat terkait dengan seks. Hal yang pada dasarnya masih tabu dilihat, kenyataannya memang sekarang sudah tidak asing lagi. Satu cerita dalam novel (Dia, Tanpa Aku, hal 221-222), Reinald mencium kepala Citra di depan teman-temannya dengan tanpa rasa segan sedikit pun dan teman-teman sekelasnya justru meneriakkan bahwa hal yang semacam itu adalah “NORAK!”. Pandangan saya sekarang, kalau hal yang seperti itu dianggap norak (ketinggalan), lalu yang terjadi sekarang seperti apa cara berpacaran remaja sekarang? Di ruangan terbuka dengan dilihat orang lain saja, remaja tidak segan-segan memperlihatkan cara berpacarannya. Lalu, bagaimana di ruangan tertutup dengan tidak terlihat orang lain? Dan remaja, sangat terkait dengan seks.
Style, menjadi modal utama bagi Ronald untuk berkenalan langsung dengan Citra. Ronald menganggap dengan kemeja itu ia akan terlihat lebih menarik perhatian Citra. Karena itu, tidak peduli menghabiskan uang berapa pun, yang penting ia harus berpenampilan yang menarik.  Ya, remaja sekarang sangat terikat dengan style yang mereka contoh dari public figure. Lihat saja banyaknya media yang memuat banyak iklan dengan tawaran merubah style dengan remaja sebagai objeknya.
 Tak terlepas dari itu semua, sport juga disinggung dalam novel ini. Dalam satu cerita Citra bukanlah orang yang jago dalam bidang olahraga kecuali lari. Dan remaja, sangat terkait sekali dengan sport. Ini akan terlihat pada fenomena sekarang, yaitu merebaknya lapangan Futshal di mana-mana. Bagi kalangan pembisnis, bola adalah olahraga paling diminati remaja sekarang ini. Bukan hanya pria, tapi juga wanita. Dapat kita lihat dari adanya suporter bola yang berjenis kelamin wanita. Maka dari itu pengarang menghadirkan sport dalam ceritanya, meskipun hanya sedikit.
Watak yaitu sifat yang dimiliki tokoh.[9] Formula yang diberikan untuk sifat keremajaan tokoh ialah keegoisan, psikologis yang labil, dan keinginan mendapatkan sesuatu secara instant. Remaja pada dasarnya memiliki sifat keegoisan yang tinggi. Tidak peduli dengan apa pun, ia harus memiliki apa yang diinginkannya. Dapat dilihat dalam novel saat perbincangan antara Ronald dengan Reinald (Dia, Tanpa Aku, hal. 188-189). Keinginan Ronald untuk mendapatkan Citra, tidak peduli Citra suka atau tidak, yang penting Citra harus mau jadi ceweknya.
Kelabilan psikologis tokoh terlihat dari tokoh Citra pada saat memakai produk kecantikan juga dihadirkan pengarang (Dia, Tanpa Aku, hal. 196-197). Satu adegan yang apabila saya bertemu dengan tokoh Citra, saya akan menyampaikan “Bagimana keberhasilan lulur dan masker mu?” Bukan hanya tokoh Citra yang mengalami hal serupa, kita pun pasti pernah melakukan hal serupa. Masker dan lulur dapat menjadi faktor keberhasilan kita dalam bertemu seseorang. Pada hal kalau di pikirkan secara logis, apa ada masker dan lulur yang dapat menjadikan kulit kita berbeda dari yang sebelumnya dengan hanya sehari pemakaian? Yang ia ingat hanyalah produk kecantikan tersebut dapat merubah kondisi fisiknya seperti objek yang diingatnya, tetapi ternyata setelah memakai produk tersebut, Reinald tidak berkata apa pun setelah melihatnya. Dengan kata lain, produk kecantikan tersebut tidak menghasilkan apa-apa.
Keinginan mendapatkan sesuatu secara singkat dan instant, terlihat pada tokoh Ronald
“Gue suka cewek lo,” ucapnya kemudian. Suaranya lirih dan bergetar, sambil berusaha menentang foto Ronald.
“Boleh nggak, dia buat gue?” Reinald meneruskan kalimatnya dengan susah payah[10]
Kutipan ini menunjukkan bahwa Reinald menginginkan Citra menjadi ceweknya tanpa berusaha seperti Ronald. Formula remaja yang telah dihadirkan pengarang memperkuat penokohan. Dan karakter di sini, telah membangun sebuah tema.
Alur yaitu rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu.[11] Formula yang diberikan pengarang pada alur (plot) adalah maju dan mundur. Maka terjadi ingatan kejadian sebelumnya, dan itu yang membuat tokoh dalam novel tersebut plin-plan dalam bersikap dan tingkah laku. Maka tidak heran apabila watak tokoh yang dihadirkan pengarang dalam novel tersebut adalah plin-plan. Keplin-planan tokoh dapat dilihat dari tokoh Reinald (Dia, Tanpa Aku, hal. 189). Reinald yang pada awalnya menjaga Citra demi almarhum kakaknya, setelah ia mengingat dan menyadari bahwa kakaknya telah tiada dan tidak akan kembali lagi, ia pun menjadikan penjagaannya sebagai rasa sayangnya kepada Citra, bukan demi kakaknya, tetapi demi dirinya. Dengan kata lain alur dalam novel ini membangun karakter tokoh.
Peristiwa yang dihadirkan pengarang berbeda dari cerita remaja lainnya, pengarang mengangkat hal-hal yang baru yang sempat terlupakan dari remaja sekarang, yaitu kematian. Dan kematian sagat terkait dengan mistik, maka pengarang juga menghadirkan cerita mistik dalam karyanya. Dalam masalah ini, pengarang memberikan nilai yang berbeda (yang baru) untuk dunia remaja sekarang ini. Novel remaja yang terbit sebelum novel ini masih wajar membahas tentang kematian, karena hal itu masih dapat dirasakan remaja pada saat itu. Tetapi justru kejadian tragis itu kembali lagi dihadirkan pengarang dalam novelnya, itu adalah suatu yang sangat memperbaharui dunia remaja saat ini. Dapat dilihat bahwa peristiwa membangun nilai-nilai baru terhadap karya.
Formula yang diberikan pengarang pada latar dalam novel ini sangat banyak. Tetapi yang sering ditampilkan adalah Sekolah dan Rumah. Latar tersebut menandakan bahwa tokoh adalah remaja anak sekolah SMA. Karena kehidupan remaja, khususnya anak sekolah, memang hanya berkisar pada sekolah dan rumah. Sekolah tempatnya kegiatan, sedangkan rumah adalah tempatnya istirahat dan memikirkan kehidupan sejenak. Tempat berpikir yang menyeluruh adalah di rumah, tepatnya di kamar. Tempat semua pikiran dan kesadaran menerpa. Dari hal mistik timbul imajinasi Reinald (hal. 202-203) Tokoh Reinald langsung menjadi penakut setelah menyadari bahwa dirinya salah. Karakter Reinald yang tadinya tidak penakut, setelah pengarang menghadirkan mistik dalam ceritanya, tokoh Reinald langsung berubah menjadi penakut. Mungkin karakter Reinald dapat mewakili karakter remaja jika dalam kehidupannya diberi unsur mistik. Mungkin dapat merubah karakter remaja tersebut dari pemberani menjadi penakut. Maka dalam novel ini tema mistik terjadi, tepatnya sewaktu Reinald berada di rumah. Dapat disimpulkan bahwa latar mempengaruhi unsur mistik dan karakter dalam novel.
Waktu yang sering ditampilkan pengarang adalah siang dan malam hari. Selera remaja sekarang sangat terkait dengan kesenangan-kesenangan. Peristiwa yang sering terjadi di siang hari adalah kesenangan dan memikirkan duniawi, sedangkan peristiwa yang sering terjadi di malam hari adalah peristirahatan dan ketenangan. Pengarang menjelaskan secara mendetail dari kehidupan remaja yang lebih sering melakukan kesenangan. Terkait dengan nilai-nilai yang baru dikembangkan pengarang adalah kematian, kehidupan remaja yang dilihatnya sekarang penuh dengan kesenangan, maka pengarang menyentuhnya dengan maut. Dapat dilihat dalam cerita pada novel (hal. 77). Pengarang mematikan tokoh utama pada malam hari secara tiba-tiba dan tidak dapat diduga sebelumnya. Dalam novel tersebut, pengarang ingin mengingatkan kepada remaja sekarang tentang kematian, karena maut datang kapan saja dan di mana saja. Dapat dirasakan latar dalam novel tersebut membangun peristiwa dalam novel.
Sudut pandang adalah cara pandang pengarang terhadap tokoh.[12] Formula yang diberikan pengarang dalam sudut pandang adalah dia-an terbatas. Pengarang hanya menjelaskan sisi luar tokoh dan tidak menjelaskan isi pikiran tokoh. Terlihat dari kata yang sering dijumpai saat pendeskripsian dan dialog adalah “sepertinya”, kata yang berarti ketidakpastian dan mengira-ngira. Maka wajar didapati ketidakpastian dalam cerita. Sudut pandang ini terkait dengan watak tokoh yang tidak digambarkan secara detail oleh pengarang. Dan sudut pandang ini, berhasil membuat penasaran pembacanya untuk melihat peristiwa apa lagi yang dihadirkan pengarang. Maka dalam hal ini sudut pandang mempengaruhi peristiwa.
Gaya bahasa yaitu bentuk bahasa yang digunakan pengarang.[13] Gaya Bahasa yang disampaikan pengarang serius tetapi tetap dilengkapi dengan humor. Bahasa yang digunakan banyak sekali bahasa prokem dan bahasa asing lainnya. Berikut adalah penceritaan Ronald tentang Citra kepada sahabatnya Dika.
“Namanya Citra Devi. Kelas tiga SMP. Pelajaran yang disenengin biologi sama matematika. Warna favorit: Biru. Olahraga yang disenengin: nggak ada. Jadi kalo lagi jam olahraga, tu cewek lebih sering nongkrong-nongkrong atau ngisengin temen-temennya. Gue pernah merhatiin, maen basketnya parah banget. Main volinya kacau, dan main bulutangkisnya asal. Satu-satunya olahraga yang dia jago Cuma lari. Tu cewek cepet banget larinya. Apa karena dia suka ngisengin orang ya? Jadi kudu bisa lari cepet biar nggak dijitakin rame-rame.”[14]
Dari kutipan tersebut, selera bahasa remaja sekarang mungkin seperti itu. Maka pengarang pun memberikan bahasa sesuai dengan selera remaja, khususnya di kota Jakarta. Tujuannya, agar mempermudahkan remaja untuk memahami cerita.
Pendeskripsian cerita pada novel, pengarang menggunakan bahasa yang sesuai dengan EYD.
Panas matahari siang ini sebenarnya bisa membuat cucian basah di jemuran kering dalam sekejap. Tapi Andika mengiyakan juga ajakan Ronald untuk melihar Citra. Cewek itu sudah diincar Ronald sejak dua bulan lalu. Sayangnya, Citra masih kelas tiga SMP, jadi Ronald belum mau PDKT. Ia menunggu Citra masuk SMA[15].
Tentang tren, pengarang dan penerbit hanya mengikuti tren yang terjadi di kalangan remaja sekarang ini. Hampir dari sekian banyaknya remaja di Tanah Air tidak dapat berbahasa Indonesia yang benar. Itu disebabkan pemakaian bahasa sehari-hari (bahasa daerah) yang dibiasakan sejak dini. Apa lagi sekarang ini, remaja sangat menyukai pencampuran bahasa asing dengan bahasa Indonesia, lagi-lagi karena tren. Tren yang mereka lihat dari public figure mereka yang sering tampil di televisi, membuat mereka ikut-ikutan mencontoh pola hidup mereka sampai sangat mendetail. Tren, sangat dipengaruhi dengan selera. Jika tren tersebut menjadi selera remaja, remaja akan terus mengikutinya sampai pengidentitasan diri.
Dilihat dari semua unsur yang dikaitkan, pesan yang disampaikan pengarang tidak langsung dihadirkan pengarang. Ini salah satu yang membuat novel tersebut memenuhi kriteria remaja, yaitu adanya pesan yang tidak menggurui dalam novel tersebut. Walaupun pesan tidak langsung dihadirkan pengarang, tetapi pesan yang disampaikan pengarang dapat langsung masuk ke telinga pembaca.
    b.      Posisi sastra remaja di tengah kehidupan remaja
Fenomena sastra remaja di Indonesia yang kini disebut teenlit dan chiklit tidak terlepas dari aspek pelabuhan dan ideologi merek sistem kapitalisme. Mereka menulis di bawah bayang-bayang pencarian identitas dan citra diri. Selain itu, dunia idealisme versi mereka pun menjadi motivasi yang besar dalam menulis. Sebuah dunia yang idealnya memang jauh dari intervensi orang dewasa. Dan pada akhirnya, idealisme itu akan bersaing atau diadu dengan konsekuensi pasar. Di tengah bisingnya daya tarik ulur itulah, sastra remaja hadir.[16]
Remaja yang menampik hal itu sebagai suatu pemanfaatan bagi dirinya, mereka akan menarik diri dari situasi tersebut. Ada pula remaja yang cuek terhadap situasi tersebut, bahkan dapat menyebabkan kenakalan remaja. Ada pula remaja yang memanfaatkan situasi tersebut dengan ikut berbagai lembaga sosial dan berkarya. Kenyataan dari hasil observasi yang saya lakukan tempo hari terhadap remaja, terbukti dari sangat rendahnya minat baca remaja sekarang. Novel adalah suatu bacaan yang cocok untuk remaja. Tetapi kebanyakan remaja mendapatkan bahan bacaan (novel) dari hasil meminjam, dikarenakan kondisi ekonomi.
Berkaitan dengan sastra remaja yang psikologisnya masih labil, maka sastra remaja dijadikan media identifikasi dan pencitraan terhadap remaja itu sendiri (labelisasi). Karena novel ini hadir saat kehidupan remaja pada kenyataannya sama seperti yang ada pada novel. Bahkan ada remaja yang meniru tokoh utama dalam novel di dalam kehidupan sehari-harinya dengan sangat mirip. Itu semua dikarenakan remaja sekarang belum bijaksana, karena remaja belum mengalami kehidupan nyata. Maka dari itu saat remaja ini lah mereka mencari jati dirinya.
Kesimpulan
Dari sastra remaja, kita dapat menangkap apa yang sebenarnya terjadi pada remaja sekarang. Mulai dari seks, sport, style, yang tentunya menyangkut dengan selera remaja. Pada dasarnya, sekarang ini remaja sekarang adalah objek penjualan dan bahan pereklutan tema. Remaja diboikot oleh penerbit. Penerbit mengambil selera-selera remaja untuk menarik perhatian remaja, tanpa bertanggung jawab atas perkembangan remaja itu sendiri. Karya sastra remaja itu sendiri dari remaja, untuk remaja, tetapi keuntungan hanya pada penerbit. Itulah buruknya sastra remaja. Karena kenyataannya, tren remaja saat ini kurang positif. Seharusnya sastra remajalah yang merubah tren remaja sekarang ini dengan berbagai macam cara dan cerita yang bertolak belakang dengan tren remaja yang dianggap kurang positif sekarang ini. Tetapi lagi-lagi penerbit selalu memikirkan materi. Kalau mereka mengeluarkan novel yang bertolak belakang dengan kehidupaan remaja sekarang, otomatis royalti yang mereka dapatkan juga akan menurun.
Novel Esti Kinasih “Dia, Tanpa Aku” sangat relevan dengan remaja sekarang, pengarang memberikan nilai-nilai baru terhadap perkembangan remaja sekarang ini. Novel ini sangat meremaja, sangat mencerminkan selera remaja masa kini dan semua persyaratan dari cerita remaja telah dihadirkan dalam cerita tersebut. Dari unsur-unsur intrinsik novel ini sangat menunjukkan keremajaan, hingga formula-formula pembangunnya. Maka dari itu novel ini menarik untuk dibaca, khususnya remaja.
Daftar pustaka
Kinasih, Esti. 2008. Dia, Tanpa Aku. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Dawud. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga
Kutha Ratna, Nyoman. 2007. Teori, metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pusaka Pelajar
Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
            Achdiat, Kukuh. 2009. Makalah: Sastra Remaja: Antara Ideologi, Produksi, dan Globalisasi. “Dari
                        kuliah umum sastra remaja” Jakarta: tidak diterbitkan
Power Point kelompok 1 perkuliahan Kajian Cerita Anak, Terjemahan dari “Reading Popular narative” oleh Roger B. Rollin. 2009. Jakarta: Tidak diterbitkan
Gunawan, Adi. 2003. Kamus Cerdas Bahasa Indonesia. Surabaya: PT Kartika
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik, Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Ashley, Bob. 1997. Reading Popular Narrative: a source book (Edisi Revisi). London: Leicester University Press
Dimensi. 2006. Bahasa Indonesia SMA XI. Jakarta: PT Swadaya Murni


[1] Sinopsis dari novel Esti Kinasih. 2008. Dia, Tanpa Aku. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
[2] Harimurti Kridalaksana. 2008. Kamus Linguistik, Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, h. 244
[3] Drs. Adi Gunawan. 2003. Kamus Cerdas Bahasa Indonesia. Surabaya: PT Kartika, h. 509
[4] Ibid, h. 213
[5] Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U. 2007. Teori, metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pusaka Pelajar, h. 75
[6] Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, h. 1092
[7] Terjemahan dari Reading popular narrative: a source book(edisi Revisi) oleh Roger B. Rollin, editor: Bob Ashley, tahun 1997, London: Leicester university press, h. 13-14 yang disampaikan oleh kelompok 1 diskusi budaya populer 09 Juni 2009 di UIN SYAHID Gd. FITK R. 718, h. 1
[8] Dimensi. 2006. Bahasa Indonesia SMA XI. Jakarta: PT Swadaya Murni, h 39
[9] Ibid, h. 39
[10] Esti Kinasih. 2008. Dia, Tanpa Aku. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, h. 189
[11] Opcit, h. 39
[12] Ibid, h. 39
[13] Ibid, h. 39
[14] Esti Kinasih. 2008. Dia, Tanpa Aku. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 8-9
[15] Ibid. Hal. 7
[16] Disarikan dari tulisan Kukuh Achdiat S. tentang Sastra Remaja: Antara Ideologi, Produksi, dan Globalisasi yang di sampaikan pada kuliah umum 11 Juni 2009 di UIN SYAHID Gd. FITK Teater 1 Jakarta. Hal 5